Kemurnian Dijadikan Merek: Saat Agama Dipasarkan, Umat Dikelola sebagai Pasar Loyal. 

redaksi

Ada fase ketika agama berhenti menjadi cahaya yang menuntun, lalu berubah menjadi merek yang dipromosikan. Di fase itu, “kemurnian” tidak lagi lahir dari kedalaman ilmu, melainkan dari kekuatan klaim. Ia dijadikan label, ditempelkan pada kelompok, lalu disebarkan dengan strategi yang tak kalah rapi dari dunia pemasaran. Hasilnya sederhana: siapa yang percaya akan merasa paling benar, siapa yang ragu akan dianggap menyimpang.

Keterangan Fhoto: Eko Febrianto / Eko Siti Jenar.

Inilah wajah baru dari praktik lama—agama sebagai alat, bukan tujuan. Mimbar bukan lagi ruang pencerahan, tetapi kanal distribusi narasi. Ceramah bukan lagi proses penyadaran, tetapi konten yang harus menarik, menggugah, dan—yang paling penting—mengikat. Umat tidak lagi diposisikan sebagai pencari kebenaran, melainkan sebagai pasar yang harus dijaga loyalitasnya.

Logika yang bekerja pun berubah. Kebenaran tidak lagi diuji dari dalil yang utuh, melainkan dari seberapa kuat ia bisa menggerakkan massa. Semakin keras narasinya, semakin tegas pembelahannya, semakin tinggi pula daya jualnya. Di sinilah “kemurnian agama” menjadi produk unggulan—karena ia menawarkan kepastian instan di tengah kompleksitas hidup.

Padahal sejarah telah memberi pelajaran berbeda. Socrates menunjukkan bahwa kebenaran tidak lahir dari kepatuhan tanpa nalar, tetapi dari keberanian untuk bertanya. Dalam Islam, prinsip ini bukan hanya diakui, tetapi menjadi bagian dari perintah: berpikir, merenung, dan memahami. Akal bukan musuh iman, melainkan fondasi untuk menguatkannya.

Namun realitas hari ini justru menempatkan akal sebagai ancaman. Pertanyaan dianggap merusak, diskusi dianggap melemahkan, dan kritik dianggap membahayakan. Mengapa? Karena umat yang berpikir tidak mudah diarahkan. Mereka tidak akan menerima klaim “paling murni” tanpa dasar. Dan di situlah ruang bisnis agama menjadi terganggu.

Kritik terhadap pola ini sebenarnya sudah lama ada. Tan Malaka pernah menyindir bahwa agama hanya butuh jamaah yang patuh. Kalimat itu mungkin terdengar keras, tetapi dalam praktik hari ini, ia terasa seperti potret yang jujur. Kepatuhan dibentuk, bukan melalui pemahaman, tetapi melalui pengulangan narasi yang sama—hingga akhirnya diterima tanpa dipertanyakan.

Baca Juga:
Indonesia-Prancis Genjot Investasi dan Diplomasi Global

Eko Siti Jenar menegaskan bahwa dalam Islam, kepatuhan tanpa pemahaman adalah kesalahan mendasar. Taqlid buta bukan jalan keselamatan, melainkan pintu masuk bagi manipulasi. Islam justru menuntut umatnya untuk menimbang setiap ajaran, memastikan kesesuaiannya dengan Al-Qur’an dan Hadis, serta memahami konteksnya secara utuh.

Namun banyak yang justru memanfaatkan ketidaktahuan umat sebagai peluang. Ayat dipilih sesuai kebutuhan, hadis dikutip tanpa konteks, lalu disusun menjadi narasi yang menguntungkan. Dari sana lahir “kebenaran versi pasar”—mudah dicerna, mudah dipercaya, dan mudah dikendalikan.

Lebih jauh, agama kini telah terintegrasi dalam sistem ekonomi digital. Ada algoritma yang menentukan apa yang terlihat, ada audiens yang diukur, dan ada keuntungan yang dihitung. Dalam sistem seperti ini, yang kompleks akan kalah oleh yang sederhana, yang mendalam kalah oleh yang sensasional. Maka “kemurnian” yang dijual pun sering kali bukan hasil kajian, melainkan hasil kemasan.

Yang paling berbahaya, umat sering tidak menyadari bahwa mereka sedang dikelola. Mereka merasa sedang membela agama, padahal yang dibela adalah narasi yang telah dirancang. Mereka merasa sedang menjaga kemurnian, padahal yang dijaga adalah struktur yang menguntungkan segelintir pihak.

Padahal Al-Qur’an telah memberikan arah yang jelas dalam QS. Ali ‘Imran ayat 85, bahwa jalan yang diterima adalah Islam. Namun Islam yang dimaksud bukanlah versi sempit yang diklaim oleh kelompok tertentu, melainkan ajaran yang utuh—yang berpijak pada wahyu dan dipahami dengan akal yang jernih. Islam tidak membutuhkan label untuk membuktikan dirinya.

Islam adalah agama ilmu. Ia tidak takut pada pertanyaan, tidak goyah oleh perbedaan, dan tidak runtuh oleh kritik. Justru melalui proses berpikir itulah iman menjadi kokoh. Maka ketika kemurnian dijadikan merek dan agama dijadikan alat pemasaran, yang hilang bukan hanya makna, tetapi juga kejujuran.

Baca Juga:
Puluhan Wartawan Tuntut Keadilan, Desak Polres Situbondo Usut Tuntas Kasus Kekerasan terhadap Jurnalis

Umat harus berhenti menjadi pasar. Tidak cukup hanya mendengar, tetapi harus menimbang. Tidak cukup hanya mengikuti, tetapi harus memahami. Karena jika tidak, maka agama akan terus dipasarkan, kemurnian akan terus diklaim, dan umat akan terus dikelola.

Keterangan Fhoto: Eko Febrianto / Eko Siti Jenar.

Pada akhirnya, kebenaran tidak butuh label. Ia hanya butuh kejujuran untuk dipahami. Dan selama itu belum menjadi kesadaran bersama, maka praktik menjual kemurnian agama akan terus menemukan pasarnya.

Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu akbar.

Penulis: Eko Siti Jenar.